Senin, 10 September 2012

SIKLUS AIR



Jakarta (ANTARA News) - Seorang peneliti air, William Waterway Marks, mengemukakan teori terbaru mengenai "Definisi terbaru siklus air di bumi".

Hal itu disampaikannya pada "International Symposium on Aqua Science, Water Resources and the Arts", November 2011 lalu.

Menurut William Waterways, definisi lama tentang siklus air di bumi pertama kali dicatat oleh Bernard Palissy, 430 tahun lalu.

Definisi lama itu hanya mencakup sepertiga dari siklus air bumi, dan tidak menggambarkan penelitian ilmiah terbaru.



Definisi terbaru untuk siklus air, sekarang dinamakan dengan "Waterway Cycle" atau "Siklus Waterway" untuk membedakan dengan definisi yang lama.

Definisi ini menggambarkan penelitian ilmiah, dan yang paling utama memasukkan tiga siklus yang saling berkaitan yang diketahui sebagai "Cosmic Water Cycle (siklus air di kosmik)", "the Atmospheric Water Cycle (siklus air di atmosfer)" dan "the Oceanic Water Cycle (siklus air di lautan)".

Tiga siklus air di bumi itu saling berkaitan dalam hal proses pergantian air di bumi.


Siklus air di Lautan

Siklus air di lautan (oceanic water cycle) merupakan siklus yang terjadi di lautan dimana air laut di daur ulang secara terus menerus dengan cara diserap ke dalam bumi lalu dikeluarkan kembali.

Menurut penelitian ilmiah, seluruh air laut di dunia ini mengalami siklus daur ulang . Bumi ini diperkirakan memiliki air laut yang benar-benar baru setiap 7 juta tahun.

Di dalam lautan ada arus laut dari atas ke bawah, kemudian adanya pergerakan lempeng-lempeng bumi secara tektonis.

Selanjutnya dari pergerakan lempeng-lempeng bumi menyebabkan munculnya zona subduksi. Di zona subduksi itu diisi dan diresapi dengan air.

Panas dari dalam perut bumi yang menggerakkan siklus air di lautan. Air yang meresap di zona subduksi akan dipanaskan ketika bertemu dengan panas dari dalam perut bumi.

Kemudian "air yang sangat panas" akan keluar di gunung-gunung berapi, berupa letusan lahar, atau sumber air panas.

Kejadian tersebut  tidak hanya terjadi gunung berapi yang berada di dalam laut, tetapi juga yang berada di benua.

Untuk air yang keluar di gunung-gunung berapi di daratan, maka perputaran air akan terkait dengan siklus air di atmosfer.

Teori adanya siklus air di lautan ini merupakan ilmu yang relatif masih baru, karena dilandasi pada perkembangan ilmu pengetahuan mengenai lempeng tektonik yang baru diketemukan sekitar 45-50 tahun belakangan.

Menurut William, siklus air di lautan berperan penting dalam keragaman makhluk hidup di bumi ini. Bahkan, mungkin tanpa adanya siklus air di lautan ini tidak akan ada kehidupan di bumi.


Siklus air di Atmosfer


Siklus air di atmosfer (the Atmospheric water cycle) merupakan siklus yang terjadi akibat adanya pemanasan oleh matahari terhadap bumi.

Siklus air di atmosfer ini yang merupakan definisi lama dari siklus air. Adanya sinar matahari yang jatuh di bumi menyebabkan terjadinya proses penguapan air, kondensasi air,  pengendapan atau turunnya hujan, perjalanan air di permukaan, perjalanan air di dalam tanah.

Siklus air di atmosfer ini berhubungan dengan siklus air di lautan, ketika air ditampung di lautan.


Siklus air di Kosmik

Siklus air di kosmik adalah siklus yang terjadi antara bumi dengan ruang angkasa.

Apabila melihat foto bumi, maka terlihat adanya aura bumi yang berwarna biru yang berbatasan langsung dengan ruang angkasa. Itu merupakan selimut bumi yang terdapat di atmosfer bumi.

Selimut atmosfer bumi selain berfungsi menahan sinar matahari dan melindungi dari masuknya benda-benda ruang angkasa, ternyata juga berperan dalam siklus air di kosmik.

Atmosfer bumi mengandung uap air. Uap air dilepaskan ke ruang angkasa akibat adanya pemanasan sinar matahari. Menurut perkiraan peneliti, bahwa air yang dilepaskan ke ruang angkasa semenjak bumi ini ada sekitar 0,2 persen jumlah air di lautan.

Selain bumi melepaskan air ke ruang angkasa, ternyata bumi juga menerima air dari benda ruang angkasa.

Tidak pernah terbayangkan benda langit seperti meteorit ternyata mengandung air.

Berdasarkan penelitian ilmiah terhadap meteorit yang jatuh di Texas, pada tahun 1999. Hasilnya, meteorit ternyata mengandung air.

Selain itu meteorit juga mengandung nukleus yang mengandung zat yang berperan untuk kehidupan seperti asam amino.

Bintang berekor atau komet, pada ekornya ternyata  melepaskan uap air di angkasa luar.

Komet terlihat memiliki ekor, karena komet terpengaruh oleh pemanasan "angin matahari". Kemudian ekor komet itu terlihat karena sinar matahari menangkap adanya partikel-partikel debu, yang ternyata mengandung uap air.

Peneliti memperkirakan bumi mendapatkan uap air dari komet sekitar 100.000 juta partikel debu setiap tahun.

Apa kegunaan dari bumi mendapatkan partikel debu benda ruang angkasa tersebut?

Hujan yang terjadi di bumi, mengandung nukleus yang berguna bagi kehidupan makhluk di bumi.

Pada penelitian tahun 2011, menemukan bahwa unsur-unsur kimia air yang berasal dari komet, memiliki kesamaan unsur-unsur kimia air yang terdapat di lautan.

Artinya partikel debu dari benda ruang angkasa memiliki peran penting bagi kehidupan di muka bumi.
(E012)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012

Sumber:

0 komentar:

Posting Komentar