Assalamu 'alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh
Sahabat, Umat Islam selalu dilanda kebingungan ketika mensikapi soal
pilihan antara Kaya Hati & Kaya Harta. Seakan-akan itu adalah dua
hal yang saling bertentangan dan tidak dapat dimiliki kedua-duanya
secara bersamaan. Orang yang miskin, selalu berujar biar miskin asal
kaya hati. dan itu dijadikannya dalih untuk membiarkan dirinya tidak
berikhtiar dengan maksimal serta tidak mencari ilmu yang dapat membawa
peningkatan kesejahteraan hidupnya. Demikian juga yang kaya harta,
terlalu memandang harta sebagai segalanya. Sehingga apapun dia lakukan
demi mengejar harta. Serta berupaya mati-matian untuk mempertahankan
status quo sebagai orang kaya. Sehingga enggan bahkan haram baginya
untuk membantu mensejahterakan sanak saudaranya ataupun masyarakat
miskin pada umumnya. Mudah-mudahan ulasan berikut ini dapat menambah
wawasan kita bersama agar dapat bersikap dengan tepat mengenai
kekayaan,
Biarlah Kita
Kaya Harta Asal Kaya Hati.
Right....
Allah swt berfirman :
"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di
jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi. Orang (lain)
yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang kaya karena memelihara
diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat
sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan
apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."(QS. al-Baqoroh (2):273)
Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu....
Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak
merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Pandang matanya
masih jauh menerawang melihat apa yang belum diraih dengan melupakan
nikmat yang sudah diperoleh. Hatinya masih terasa hampa karena fokus
hatinya adalah kekurangan yang belum dia dapatkan.
Sebenarnya kaya hati ialah kaya yang hakiki. Tidak ada lagi kekayaan di
atas kaya hati. Kalau hati sudah kaya, maka kekayaan akan dirasai di
mana-mana dan dalam apa jua. Keadaan Orang yang kaya hati, kalau mereka
diberi kelebihan kaya harta, ramai orang boleh menumpang dan mendapat
manfaat dari kekayaannya. Fakir miskin terbela, orang susah dibantu,
orang yang memerlukan diberi, dan orang yang berhutang diselesaikan
hutangnya .
Orang yang kaya wang ringgit dan harta benda suatu saat bisa jadi jatuh
miskin dan papa bahkan boleh jatuh muflis atau bangkrut. Tetapi orang
yang kaya hati akan tetap kaya selama-lamanya.
Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi
nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu
berkata,
قَالَ
لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ
أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ :
وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه
. قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,
“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar.
Beliau bertanya lagi,
“Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.
Lantas beliau pun bersabda,
“Sesungguhnya
yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa
cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa
tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga.
Dari sini seorang insan bisa merenungkan bahwa banyaknya harta dan
kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.
Orang kaya yang fakir hatinya akan selalu merasa kurang puas. Jika
diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang
kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya
adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah
yang namanya
Qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan,
“Hakikat kekayaan
sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang
yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah
merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha
keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari
manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang
seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus
memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dicamkan baik-baik bawa hakikat
kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni,
selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa
cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang
diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini
tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang
tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam
inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang
disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa
puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk
menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak
pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah
untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu
ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang
seakan-akan kaya selamanya.
Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari
orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus)
terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha keras untuk menambah
dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram).
Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih.
Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak
pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang
tidak kaya pada hakikatnya.
Intinya, orang yang
kaya hati berawal dari sikap selalu
ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu dan yakin bahwa
apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”
Orang yang kaya hati merasa cukup dengan Tuhan. Dia merasa kaya dengan
Tuhan. Kalau dunia dan harta ada di tangan, dia susah hati kerana ini
bererti tanggungjawab yang berat terhadap agama dan masyarakat yang
perlu dipikul. Dia takut kalau-kalau tanggungjawab itu tidak dapat
dilaksanakan. Kalau harta itu dapat diberi kepada orang yang memerlukan
dan dapat dikorbankan ke jalan Allah, maka terhibur jiwanya dan lapang
dadanya. Kalau ini tidak dapat dilakukan maka susah hatinya. Harta dan
dunianya di tangan tetapi tidak di hati. Kalau dunia dan harta tidak
dimiliki, senang hatinya kerana tanggungjawabnya ringan.
Dia tenang dengan ujian dan kesusahan. Dia tidak digugat oleh hal-hal
dunia yang menimpanya sama ada yang berbentuk nikmat dan kesenangan
mahupun yang berbentuk ujian dan kesusahan. Dunianya tidak dapat
melalaikannya dari Tuhan dan dari tanggungjawabnya.
Orang yang kaya hati tidak merasa inferiority complex atau hina diri
dengan orang kaya atau raja, orang cerdik pandai, orang yang berkuasa
dan sebagainya. Dia memandang semua manusia semuanya setaraf sahaja.
Pada dia, martabat manusia diukur mengikut iman dan taqwanya dan bukan
dengan ukuran dunia.
Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
“Tidak
apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang
bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia (kelapangan jiwa) itu
bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang
tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa
yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat
qona’ah.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh sangat beruntung orang
yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah
menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)
Allah berfirman :
"Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah
kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi
memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS.11:61)
artinya membangun kehidupan atau peradaban yang baik,benar dan Islami.
"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa
bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab
dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan
Kami ciptakan besi (perak, aluminium, minyak,atom dll) yang padanya
terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfa’at bagi manusia,
(supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya ALLAH mengetahui
siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal ALLAH tidak
dilihatnya. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi Maha Perkasa."(QS.57:25)
artinya umat Islam haruslah mendirikan industri, membuka lapangan
kerja, meningkatkan pendapatan dan pendidikan akhirnya memakmurkan umat
Islam serta memperkuat pertahanan agama dan umat.
Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni
as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta
pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR.
Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan
‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak
diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup
dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[Al Minhaj Syarh
Shahih Muslim, 17/41]
Muslim Ideal: Yang Kaya atau Yang Miskin?
Rasulullah bersabda :
“Wahai Amr, alangkah baiknya harta yang baik itu dimiliki oleh orang yang baik.”[Musnad Ahmad, no. 17763.]
Sebuah tulisan yang sangat menggugah yang ditulis oleh Anis matta,
“Pandangan Islam terhadap Harta” menggetarkan hati saya. Disebutkan
“INDIKATOR KESHALEHAN ATAU KEBURUKAN MASYARAKAT APABILA
UANG ITU BEREDAR LEBIH BANYAK DI TANGAN ORANG-ORANG JAHAT MAKA ITU
INDIKASI BAHWA MASYARAKAT ITU RUSAK. APABILA UANG ITU BEREDAR DI
KALANGAN ORANG-ORANG SHALEH MAKA ITU INDIKASI BAHWA MASYARAKAT ITU
SEHAT.
Kenapa umat Islam dianggap bodoh, terbelakang dan
miskin. Karena yang menguasai kekayaan di Dunia adalah orang-orang
jahat dan muslim yang keislamannya belum mantap. Jadi, kita sebagai
orang-orang baik berdosa jika membiarkan kekayaan dikuasai oleh
orang-orang jahat padahal kita juga mampu seperti mereka karena kita
memiliki Allah yang maha Kaya. Kenapa kita miskin, karena kita tidak
belajar masalah uang. pandangan kita tentang kekayaan harus dirubah
dari “Biar miskin asal bahagia menjadi BIAR KAYA ASAL BAHAGIA”.
Jangan heran ekonomi dunia saat ini kacau balau karena yang menguasai
ekonomi dunia adalah orang-orang tidak baik dan Indonesia juga menjadi
negara terbelakang, karena yang menguasai ekonomi Indonesia adalah
orang-orang yang tidak baik. Lihat saja, daftar 10 besar orang terkaya
di Indonesia, pemilik 3 merek rokok nasional terpampang disana.
Masyarakat tidak tahu, dibalik topeng-topeng beasiswa dan program
sosial yang diberikan oleh perusahaan rokok tersebut, salah satu dari
mereka membuat sebuah tempat judi mewah di Las Vegas.
Kaya atau miskin bukanlah sebuah dosa yang harus dihindari. Ketika
Allah SWT meluaskan rizqi seseorang, bukanlah sebuah jebakan untuk
menyeretkan ke dalam neraka. Dan ketika Allah menyempitkan rizqi
hamba-Nya, belum tentu menjadi jaminan atas surga-Nya.
Semua akan kembali kepada bagaimana menyikapinya. Rasa kurang tepat
kalau dikatakan bahwa muslim ideal itu adalah yang miskin saja atau
yang kaya saja. Yang ideal adalah yang miskin tapi bersabar dan yang
kaya tapi banyak berinfaq serta syukur. Keduanya telah dicontohkan
langsung oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
Abu Bakar as-shiddiq, Utsman bin Al-Affan, Abdurrahman bin Al-Auf
radhiwallu anhum adalah tipe-tipe shahabat nabi yang diluaskan
rezekinya oleh Allah. Bahkan Umar bin Al-Khattab pun pernah diberikan
kekayaan yang luar biasa berlimpah. Dan yang paling kaya di antara
semua itu adalah Rasulullah SAW sendiri.
Siapa bilang Rasulullah SAW itu miskin dan tidak punya penghasilan.
Bahkan dibandingkan dengan saudagar terkaya di Madinah, pemasukan
Rasulullah SAW jauh melebihi. Memangnya apa sih profesi Rasulullah SAW?
Berdagang?
Tidak, beliau SAW bukan pedagang. Dahulu sewaktu belum diangkat menjadi
nabi, memang beliau pernah menekuni profesi sebagai pedagang. Tapi
profesi itu sudah tidak lagi beliau lakoni setelah itu, terutama
setelah beliau diangkat jadi nabi.
Pemasukan beliau adalah dari ghanimah (harta rampasan perang), di mana
oleh Allah SWT beliau diberikan hak istimewa atas setiap harta rampasan
perang. Bila suatu kota atau negeri ditaklukkan oleh kaum muslimin,
maka beliau punya hak 20% dari pampasan perang. Hak ini menjadikan
Rasulullah SAW sebagai orang dengan penghasilan terbesar di Madinah.
Rampasan perang itu bukan harta yang sedikit, sebab terkait dengan
semua aset-aset yang ada di negeri yang ditaklukkan.
"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai
rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul,
kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika
kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada
hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Anfal: 41)
Namun semua hak yang beliau terima itu tidak menjadikan beliau hidup di
istana megah, atau mengoleksi semua baju termahal dunia, atau makan
makanan terlezat di dunia. Semua tidak terjadi pada beliau, sebab semua
harta yang beliau dapatkan hanya beliau kembalikan lagi buat para fakir
miskin dan orang-orang tak punya yang membutuhkan.
Kehidupan pribadi beliau sendiri terlalu bersahaja, tidur hanya beralas
tikar kasar yang kalau beliau bangun, maka masih tersisa bekas
cekatannya di kulit beliau. Bahkan pernah 3 bulan dapur rumah beliau
tidak mengepulkan asap.
Demikian juga shahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, apa sih yang beliau
tidak punya dari harta kekayaan dunia. Beliau seorang saudagar besar
yang kalau mau menumpuk kekayaan, tidak akan habis dimakan tujuh
turunan. Tetapi seluruh harta yang beliau miliki diinfaqkan ke baitul
muslimin. Ketika ditanya apa yang disisakan untuk anak dan isteri,
beliau hanya menjawab bahwa untuk anak dan isteri adalah Allah SWT.
Subhanallah!
Perilaku gemar infaq ini sampai membuat Umar bin Al-Khattab ra iri
dengan Abu Bakar. Beliau baru mampu menginfaqkan 50% dari total
hartanya saja. Bahkan pernah beliau mendapatkan hak eksklusif atas
perkebunan kurma di Khaibar. Kalau dinilai nominal, maka hak itu akan
membuatnya sangat kayaraya dan bisa membangun istana termegah di muka
bumi dengan biaya pribadi, tetapi beliau justru mewakafkannya di jalan
Allah. Padahal perkebunan kurma itu selalu menghasilkan panen tiap
tahun sepanjang masa.
Belum lagi Utsman bin Al-Affan ra. yang kemaruk untuk bershadaqah,
tidak boleh melihat orang susah, kepinginnya langsung membantu dengan
hartanya yang sangat berlimpah.
Pendeknya, Islam sangat tidak mengharamkan kekayaan, bahkan nabi dan
para shahabat boleh dibilang termasuk jajaran milyarder dengan usaha
dan jerih payah mereka, tetapi yang menarik kita kaji adalah sikap
mereka setelah menjadi milyarder itu sendiri. Tidak ada keinginan untuk
bermewah-mewah, apalagi pamer kekayaan. Justru semuanya malah
dinafkahkan ke baitul-mal muslimin.
Barangkali inilah yang sulit kita contoh di masa sekarang. Untuk
sekedar jadi kaya, bikin usaha, punya beberapa perusahaan multi
nasional, mungkin kita bisa mencapainya. Tetapi bisakah kita tetap
berada di jalan para shahabat itu ketika kekayaan sudah di tangan?
Tentu ceritanya akan lain bila kita sendiri yang mengalaminya. Sehingga
banyak orang yang terjebak dengan situasi ini, lalu lebih memilih hidup
miskin saja. Tentu ini masalah pilihan hidup dan selera masing-masing
individu.
Yang penting, Islam sama sekali tidak mengharamkan umatnya jadi orang
kaya, sebab nabi dan para shahabat pun banyak yang kaya. Tapi kalau
tidak mampu jadi orang kaya, hidup jadi orang miskin saja pun tidak
apa-apa. Tapi biar pun jadi orang miskin, jangan dikira masalah sudah
selesai. Selamanyawa masih dikandung badan, selama itu pula ujian dan
cobaan masih harus kita hadapi.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
http://www.naqsdna.com/2011/09/kaya-hati-kaya-harta.htmhttp://www.naqsdna.com/2011/09/kaya-hati-kaya-harta.htmhttp://www.naqsdna.com/2011/09/kaya-hati-kaya-harta.htm