la bellezza della condivisione

Ketika Semua Terasa Indah Saat Kita Berbagi

Kimia Selalu Penuh warna

Semua akan memancarkan indahnya warna mereka dan ketika digabungkan akan menjadi pelangi yang menakjubkan

Menjadi sebaik-baik manusia

Improvment selalu diawali dengan huruf "I" yang berarti saya

Air

Semua kehidupan berawal dari Air

Hemat

Hemat Air berarti menyelamatkan Bumi kita

Senin, 12 November 2012

Orang Kaya yang Dicintai Allah dan Ditakuti Iblis



Allah Rabbul Izzati  Yang Maha Suci  berfirman dalam hadits Qudsi  ; Allah  mencintai tiga
perkara  dan sangat mencintai kepada  tiga hal yang lain. Mereka berjumlah enam orang yang
Kami bagi menjadi dua kelompok.
1.      Aku mencintai orang fakir yang rendah hati, sedangkan  Aku sangat mencintai orang kaya yang rendah hati, karena ia punya alasan untuk berlaku sombong, tapi ia tetap  rendah hati

2.      Aku mencintai orang kaya yang dermawan, sedangkan Aku lebih mencintai orang miski yang dermawan
3.      Aku mencintai orang yang sudah tua tapi taat, sedangkan Aku lebih mencintai orang muda yang taat.
Dan Aku membenci tiga perkara dan kebencian-Ku kepada 3 perkara lainnya sangat kuat.
1.      Aku benci orang kaya yang sombong tapi Aku lebih benci kepada orang miskin yang sombong
2.      Aku benci orang fakir yang bakhil, tapi Aku lebih benci lagi kepada orang kaya yang bakhil.
3.      Aku benci pemuda yang durhaka (ma’siat), tapi Aku lebih benci lagi kepada orang yang sudah tua yang maksiat. (Hadits Qudsi dalam Tafsir al-Sya’rowi )
Sumber : Tafsir Asy’sya’awi Bab. 105 Hal. 2570
Kemudian diceritakan dari Wahab Bin Munabbih bahwasanya ia berkata, Allah Ta‘Ala memperintahkan iblis mendatangi Nabi Muhammad saw dan menjawab apa yang beliau tanyakan, kemudian iblis itu datang dengan menyerupai orang tua yang bertongkat, lalu terjadilah dialog antara iblis dan Nabi Muhammad.
Nabi saw bertanya kepada iblis mengapa ia datang. Iblis mengatakan bahwa Allah memerintahkannya untuk mendatangi beliau. Lalu nabi saw bertanya “Wahai makhluk terkutuk, ada berapa kelompok musuh-musuhmu?” lalu iblis menjawab, Ada 15 kelompok, Berikut golongan yang ditakuti iblis.
1. Nabi Muhammad saw,
2. Pemimpin yang adil,
3. Orang kaya yang rendah hati,
4. Pedagang yang jujur,
5. Orang pandai yang alim yang tenang pembawaannya,
6. Orang mukmin yang suka memberi nasihat,
7. Orang mukmin yang murah hati,
8. Orang yang bertaubat yang tetap pada taubatnya itu,
9. Orang yang benar-benar menjaga diri dari yang haram,
10. Orang mukmin yang senantiasa dalam keadaan suci,
11. Orang mukmin yang banyak sedekah,
12. Orang mukmin yang berbaik budi kepada sesama manusia,
13. Orang mukmin yang banyak bermanfaat bagi sesama manusia,
14. Orang yang pandai Al Qur’an dan selalu membacanya,
15. Orang yang biasa mengerjakan sholat di waktu malam saat orang lain sedang tertidur
Dari dua kisah diatas ditunjukkan bahwa menjadi orang kaya merupakan suatu potensi untuk dicintai Allah dan menjadi ladang beribadah yang lebih efektif karena ketika seorang muslim menjadi seorang yang kaya raya maka dia dapat lebih mudah menjalankan ibadah khususnya yang memerlukan finansial berlebih. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa orang kaya yang dicintai Allah sekaligus dibenci Iblis adalah orang kaya yang rendah hati, Lantas seperti apakah orang kaya yang rendah hati?
1.      Berbicara sesedikit mungkin tentang diri sendiri. Orang lebih senang menjadikan dirinya sebagai pusat pembicaraan. Banyak orang membuat sensasi agar dijadikan buah mulut orang-orang di sekitarnya, membuat mereka merasa sangat dihargai, bahkan diri kita sendiri pun kadang begitu. Di lain kesempatan, kita juga terkadang merasa tertekan ketika ternyata menemukan kehadiran kita biasa-biasa saja. Sebaiknya, jika memungkinkan, kita tidak usah membangga-banggakan diri sendiri dan prestasi yang sudah dicapai. Lebih baik orang lain tahu semua itu dari orang lain, saudara, atau siapa saja.
2.      Mengurus atau mengerjakan sendiri urusan pribadi. Meskipun mungkin kita mempunyai pembantu di rumah, bukan berarti kita harus menggantungkan semua urusan padanya. Jika bisa, bersihkan kamar anda sendiri tanpa harus menyuruh pembantu melakukannya yang sudah terlalu lelah mengurus segala urusan rumah.
3.      Hindari rasa ingin tahu yang berlebihan dan janganlah mencampuri urusan orang lain. Sebisa mungkin jika hal itu tidaka da sangkut pautnya dengan kita, kita jangan terlalu mencampuri.
4.      Terimalah pertentangan dengan kegembiraan. Satu orang dengan satu atau dua pendapat itu wajar. Tapi, bagaimana jika ada 50 orang dalam satu ruangan? Tentu sudah pasti, akan ada lebih dari 50 macam pendapat yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat itu akan selalu ada, namun yang menjadi masalahnya adalah kemampuan kita untuk menyikapi dan menghargai perbedaan pendapat. Jika tidak bisa, maka hal ini akan menjadi cikal bakal munculnya konflik. Mulai sekarang, hargai dan terima perbedaan pendapat yang ada di sekitar kita.
5.      Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain. Kalau kita suka menyimpan kesalahan orang lain, itu sama saja kita menganggap diri kita lebih baik dibandingkan orang lain. Padahal, kita sendiri pun sering berbuat kesalahan, bukan? Dan jujur, kita pun akan jauh lebih berbahagia jika orang lain memaafkan kesalahan kita. Lantas, kalau kita pandang itu baik, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama pada orang lain?
6.      Terimalah perasaan tidak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah. Tidak usah berkecil hati. Kalau manusia tidak bersedia memperhatikan kita, itu sama saja kita memberikan tempat bagi Tuhan untuk mengambil alih tempat itu. So, kalau Tuhan sendiri yang memperhatikan kita, dijamin hidup kita akan lebih baik.
7.      Bersikap sopan dan peka, sekalipun ada seseorang yang memancing amarah kita.
8.       Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai orang lain.
9.       Bersikaplah mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda yang benar

Poin-poin diatas juga dapat dilihat dalam diri Rasulullah SAW, Siti Khadijah, Utman bin Affan dan para sahabat Rasul lainya sebagaimana yang telah dicantumkan dalam blog ini sebelumnya. Lalu masih adakah figur orang kaya yang rendah hati pada zaman sekarang? Sandiaga Uno (http://sosok.kompasiana.com/2011/09/27/sandiaga-uno-sosok-milyarder-yang-rendah-hati/), bill gates dan 10 orang kaya dermawan lainnya juga bisa anda jadikan contoh untuk menjadi orang kaya yang rendah hati.



Sumber :                                                            




Kaya Hati Kaya Harta

Assalamu 'alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh

Sahabat, Umat Islam selalu dilanda kebingungan ketika mensikapi soal pilihan antara Kaya Hati & Kaya Harta. Seakan-akan itu adalah dua hal yang saling bertentangan dan tidak dapat dimiliki kedua-duanya secara bersamaan. Orang yang miskin, selalu berujar biar miskin asal kaya hati. dan itu dijadikannya dalih untuk membiarkan dirinya tidak berikhtiar dengan maksimal serta tidak mencari ilmu yang dapat membawa peningkatan kesejahteraan hidupnya. Demikian juga yang kaya harta, terlalu memandang harta sebagai segalanya. Sehingga apapun dia lakukan demi mengejar harta. Serta berupaya mati-matian untuk mempertahankan status quo sebagai orang kaya. Sehingga enggan bahkan haram baginya untuk membantu mensejahterakan sanak saudaranya ataupun masyarakat miskin pada umumnya. Mudah-mudahan ulasan berikut ini dapat menambah wawasan kita bersama agar dapat bersikap dengan tepat mengenai kekayaan, Biarlah Kita Kaya Harta Asal Kaya Hati. Right....

Allah swt berfirman :
"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi. Orang (lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."(QS. al-Baqoroh (2):273)

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu....
Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Pandang matanya masih jauh menerawang melihat apa yang belum diraih dengan melupakan nikmat yang sudah diperoleh. Hatinya masih terasa hampa karena fokus hatinya adalah kekurangan yang belum dia dapatkan.

Sebenarnya kaya hati ialah kaya yang hakiki. Tidak ada lagi kekayaan di atas kaya hati. Kalau hati sudah kaya, maka kekayaan akan dirasai di mana-mana dan dalam apa jua. Keadaan Orang yang kaya hati, kalau mereka diberi kelebihan kaya harta, ramai orang boleh menumpang dan mendapat manfaat dari kekayaannya. Fakir miskin terbela, orang susah dibantu, orang yang memerlukan diberi, dan orang yang berhutang diselesaikan hutangnya .

Orang yang kaya wang ringgit dan harta benda suatu saat bisa jadi jatuh miskin dan papa bahkan boleh jatuh muflis atau bangkrut. Tetapi orang yang kaya hati akan tetap kaya selama-lamanya.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar.
Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.
Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa merenungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Orang kaya yang fakir hatinya akan selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya Qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dicamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha keras untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu dan yakin bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Orang yang kaya hati merasa cukup dengan Tuhan. Dia merasa kaya dengan Tuhan. Kalau dunia dan harta ada di tangan, dia susah hati kerana ini bererti tanggungjawab yang berat terhadap agama dan masyarakat yang perlu dipikul. Dia takut kalau-kalau tanggungjawab itu tidak dapat dilaksanakan. Kalau harta itu dapat diberi kepada orang yang memerlukan dan dapat dikorbankan ke jalan Allah, maka terhibur jiwanya dan lapang dadanya. Kalau ini tidak dapat dilakukan maka susah hatinya. Harta dan dunianya di tangan tetapi tidak di hati. Kalau dunia dan harta tidak dimiliki, senang hatinya kerana tanggungjawabnya ringan.

Dia tenang dengan ujian dan kesusahan. Dia tidak digugat oleh hal-hal dunia yang menimpanya sama ada yang berbentuk nikmat dan kesenangan mahupun yang berbentuk ujian dan kesusahan. Dunianya tidak dapat melalaikannya dari Tuhan dan dari tanggungjawabnya.

Orang yang kaya hati tidak merasa inferiority complex atau hina diri dengan orang kaya atau raja, orang cerdik pandai, orang yang berkuasa dan sebagainya. Dia memandang semua manusia semuanya setaraf sahaja. Pada dia, martabat manusia diukur mengikut iman dan taqwanya dan bukan dengan ukuran dunia.

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia (kelapangan jiwa) itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Allah berfirman :
"Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS.11:61)
artinya membangun kehidupan atau peradaban yang baik,benar dan Islami.

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi (perak, aluminium, minyak,atom dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfa’at bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya ALLAH mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal ALLAH tidak dilihatnya. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi Maha Perkasa."(QS.57:25)

artinya umat Islam haruslah mendirikan industri, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan pendidikan akhirnya memakmurkan umat Islam serta memperkuat pertahanan agama dan umat.

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول :  اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41]

Muslim Ideal: Yang Kaya atau Yang Miskin?

Rasulullah bersabda :
“Wahai Amr, alangkah baiknya harta yang baik itu dimiliki oleh orang yang baik.”[Musnad Ahmad, no. 17763.]

Sebuah tulisan yang sangat menggugah yang ditulis oleh Anis matta, “Pandangan Islam terhadap Harta” menggetarkan hati saya. Disebutkan
“INDIKATOR KESHALEHAN ATAU KEBURUKAN MASYARAKAT APABILA UANG ITU BEREDAR LEBIH BANYAK DI TANGAN ORANG-ORANG JAHAT MAKA ITU INDIKASI BAHWA MASYARAKAT ITU RUSAK. APABILA UANG ITU BEREDAR DI KALANGAN ORANG-ORANG SHALEH MAKA ITU INDIKASI BAHWA MASYARAKAT ITU SEHAT.
Kenapa umat Islam dianggap bodoh, terbelakang dan miskin. Karena yang menguasai kekayaan di Dunia adalah orang-orang jahat dan muslim yang keislamannya belum mantap. Jadi, kita sebagai orang-orang baik berdosa jika membiarkan kekayaan dikuasai oleh orang-orang jahat padahal kita juga mampu seperti mereka karena kita memiliki Allah yang maha Kaya. Kenapa kita miskin, karena kita tidak belajar masalah uang. pandangan kita tentang kekayaan harus dirubah dari “Biar miskin asal bahagia menjadi BIAR KAYA ASAL BAHAGIA”.

Jangan heran ekonomi dunia saat ini kacau balau karena yang menguasai ekonomi dunia adalah orang-orang tidak baik dan Indonesia juga menjadi negara terbelakang, karena yang menguasai ekonomi Indonesia adalah orang-orang yang tidak baik. Lihat saja, daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia, pemilik 3 merek rokok nasional terpampang disana. Masyarakat tidak tahu, dibalik topeng-topeng beasiswa dan program sosial yang diberikan oleh perusahaan rokok tersebut, salah satu dari mereka membuat sebuah tempat judi mewah di Las Vegas.

Kaya atau miskin bukanlah sebuah dosa yang harus dihindari. Ketika Allah SWT meluaskan rizqi seseorang, bukanlah sebuah jebakan untuk menyeretkan ke dalam neraka. Dan ketika Allah menyempitkan rizqi hamba-Nya, belum tentu menjadi jaminan atas surga-Nya.

Semua akan kembali kepada bagaimana menyikapinya. Rasa kurang tepat kalau dikatakan bahwa muslim ideal itu adalah yang miskin saja atau yang kaya saja. Yang ideal adalah yang miskin tapi bersabar dan yang kaya tapi banyak berinfaq serta syukur. Keduanya telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Abu Bakar as-shiddiq, Utsman bin Al-Affan, Abdurrahman bin Al-Auf radhiwallu anhum adalah tipe-tipe shahabat nabi yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Bahkan Umar bin Al-Khattab pun pernah diberikan kekayaan yang luar biasa berlimpah. Dan yang paling kaya di antara semua itu adalah Rasulullah SAW sendiri.

Siapa bilang Rasulullah SAW itu miskin dan tidak punya penghasilan. Bahkan dibandingkan dengan saudagar terkaya di Madinah, pemasukan Rasulullah SAW jauh melebihi. Memangnya apa sih profesi Rasulullah SAW? Berdagang?

Tidak, beliau SAW bukan pedagang. Dahulu sewaktu belum diangkat menjadi nabi, memang beliau pernah menekuni profesi sebagai pedagang. Tapi profesi itu sudah tidak lagi beliau lakoni setelah itu, terutama setelah beliau diangkat jadi nabi.

Pemasukan beliau adalah dari ghanimah (harta rampasan perang), di mana oleh Allah SWT beliau diberikan hak istimewa atas setiap harta rampasan perang. Bila suatu kota atau negeri ditaklukkan oleh kaum muslimin, maka beliau punya hak 20% dari pampasan perang. Hak ini menjadikan Rasulullah SAW sebagai orang dengan penghasilan terbesar di Madinah. Rampasan perang itu bukan harta yang sedikit, sebab terkait dengan semua aset-aset yang ada di negeri yang ditaklukkan.

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Anfal: 41)

Namun semua hak yang beliau terima itu tidak menjadikan beliau hidup di istana megah, atau mengoleksi semua baju termahal dunia, atau makan makanan terlezat di dunia. Semua tidak terjadi pada beliau, sebab semua harta yang beliau dapatkan hanya beliau kembalikan lagi buat para fakir miskin dan orang-orang tak punya yang membutuhkan.

Kehidupan pribadi beliau sendiri terlalu bersahaja, tidur hanya beralas tikar kasar yang kalau beliau bangun, maka masih tersisa bekas cekatannya di kulit beliau. Bahkan pernah 3 bulan dapur rumah beliau tidak mengepulkan asap.

Demikian juga shahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, apa sih yang beliau tidak punya dari harta kekayaan dunia. Beliau seorang saudagar besar yang kalau mau menumpuk kekayaan, tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Tetapi seluruh harta yang beliau miliki diinfaqkan ke baitul muslimin. Ketika ditanya apa yang disisakan untuk anak dan isteri, beliau hanya menjawab bahwa untuk anak dan isteri adalah Allah SWT. Subhanallah!

Perilaku gemar infaq ini sampai membuat Umar bin Al-Khattab ra iri dengan Abu Bakar. Beliau baru mampu menginfaqkan 50% dari total hartanya saja. Bahkan pernah beliau mendapatkan hak eksklusif atas perkebunan kurma di Khaibar. Kalau dinilai nominal, maka hak itu akan membuatnya sangat kayaraya dan bisa membangun istana termegah di muka bumi dengan biaya pribadi, tetapi beliau justru mewakafkannya di jalan Allah. Padahal perkebunan kurma itu selalu menghasilkan panen tiap tahun sepanjang masa.

Belum lagi Utsman bin Al-Affan ra. yang kemaruk untuk bershadaqah, tidak boleh melihat orang susah, kepinginnya langsung membantu dengan hartanya yang sangat berlimpah.

Pendeknya, Islam sangat tidak mengharamkan kekayaan, bahkan nabi dan para shahabat boleh dibilang termasuk jajaran milyarder dengan usaha dan jerih payah mereka, tetapi yang menarik kita kaji adalah sikap mereka setelah menjadi milyarder itu sendiri. Tidak ada keinginan untuk bermewah-mewah, apalagi pamer kekayaan. Justru semuanya malah dinafkahkan ke baitul-mal muslimin.

Barangkali inilah yang sulit kita contoh di masa sekarang. Untuk sekedar jadi kaya, bikin usaha, punya beberapa perusahaan multi nasional, mungkin kita bisa mencapainya. Tetapi bisakah kita tetap berada di jalan para shahabat itu ketika kekayaan sudah di tangan?

Tentu ceritanya akan lain bila kita sendiri yang mengalaminya. Sehingga banyak orang yang terjebak dengan situasi ini, lalu lebih memilih hidup miskin saja. Tentu ini masalah pilihan hidup dan selera masing-masing individu.

Yang penting, Islam sama sekali tidak mengharamkan umatnya jadi orang kaya, sebab nabi dan para shahabat pun banyak yang kaya. Tapi kalau tidak mampu jadi orang kaya, hidup jadi orang miskin saja pun tidak apa-apa. Tapi biar pun jadi orang miskin, jangan dikira masalah sudah selesai. Selamanyawa masih dikandung badan, selama itu pula ujian dan cobaan masih harus kita hadapi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
http://www.naqsdna.com/2011/09/kaya-hati-kaya-harta.htmhttp://www.naqsdna.com/2011/09/kaya-hati-kaya-harta.htmhttp://www.naqsdna.com/2011/09/kaya-hati-kaya-harta.htm

Pilih Kaya Harta atau Kaya Hati?

tulisan ini di ambil dari sebuah blog yang penuh inspirasi.. :) silahkan di baca...

http://penulis165.esq-news.com/2012/artikel/01/03/pilih-kaya-harta-atau-kaya-hati.html
Siapa di antara Anda yang pernah mendengar nasehat, entah dari orang tua, paman, guru, teman, atau orang terdekat Anda, yang berbunyi: ”Lebih baik kaya hati miskin harta dari pada kaya harta miskin hati”. Izinkan saya Selanjutnya, kapan pertama sekali Anda mendengarnya? Atau mungkin, saat ini Anda memiliki keyakinan seperti pilihan kata-kata yang tersusun dalam kalimat yang saya sampai di atas?
Dan bila saya melemparkan pertanyaan, pilih kaya harta miskin hati, atau kaya hati miskin harta? Apa yang akan Anda pilih?
Terinspirasi dari status facebook
Tadi siang, setelah pulang dari mengantar istri ke sekolahnya. Saya membuka gadget blackberry saya. Kemudian saya pilih icon berlogo huruf f berwarna putih, dikelilingin biru langit sekitarnya. Setelah saya masuk, saya membaca update status terbaru dari teman-teman saya, yang jumlahnya hampir 5000 itu. Yang mengesankan bagi saya, sehingga terinspirasi menuliskan cerita ini. Status seorang teman. ”Jangan takut untuk mengatakan kepada nya siapa tentang dirimu. Katakan, meskipun kamu miskin, tapi kamu kaya hati...” saya tidak hafal keseluruhannya.
Keuangan kurang sehat
Entah kenapa? Setelah membaca status tersebut, di dalam diri saya terasa seperti ada sesuatu yang menganjal dengan susunan kata-kata itu. Bukan karena salah benar. Tetapi, saya merasakan, kalimat itu akan memiliki dampak yang begitu besar, bagi kehidupan orang yang meyakini akan kalimat ”meskipun aku miskin, tapi aku kaya hati”. Terutama dalam hal keuangan. Biasanya, secara keuangan kurang sehat.
Pengalaman pribadi
Perasaan ini menyala-nyala dalam diri saya, mungkin karena saya pernah mengalami, gara-gara keyakinan yang keliru akan uang, menyebabkan saya kurang bershabat dengan uang. Akibat keyakinan yang tertanam Setiap saya memiliki uang lebih dari cukup, maka saya akan bermaksiat. Program itu sungguh membuat kehidupan saya mejadi berantakan. Saya tidak menyukai bisnis, kurang nyaman dengan negosiasi. Setiap buku ada kata-kata; bisnis, kaya, keberlimpahan, dan yang berhubungan dengan uang. Saya pasti menghindar dan tidak suka. Tapi, sekarang saya sudah tobat. Karena bagi saya saat ini, uang adalah alat. Berkat pemahaman,
Hanya satu cara mengatasi kemiskinan di Negeri ini.
Saya harus menjadi kaya. Karena dengan demikian, sudah berkurang satu orang miskin. Yaitu saya.
#Rahmadsyah’s Money Mindset
Apakah benar?
Kemudian, perasaan yang mengganjal itu berubah menjadi suara ”Apakah benar, orang miskin harta (kurang dari memenuhi kebutuhan) bisa menjadi kaya hati? Atau, apakah betul, orang yang kaya hartanya tidak memiliki kekayaan hati? Memangnya, apakah ada hubungan antara keuangan dengan suasana hati?” Semua pertanyaan itu, terjawab dengan kata ”Tidak” dengan tegas terdengar dalam diri saya.
Bahkan, ada suara berasal (posisi) jantung saya berkata ”Dari pengalaman yang ada, sepertinya sedikit orang yang kaya harta miskin hatinya. Tetapi, kebalikannya, orang-orang yang miskin hartanya,  tidak sedikit lebih miskin lagi hatinya”. Ini hanya pendapat saya saja. Saya tidak tau bagaimana dengan pengalaman hidup Anda. Dan, suara itu menyebabkan saya terus berpikir penuh tanda tanya. ”Apa yang menyebabkan seseorang meyakini lebih baik miskin harta tapi kaya hati. Dari mana hadir itu?
Teringat masa lalu
Pikiran saya melayang-layang, seperti menelusuri lorong waktu. Kembali kemasa kecil. Apakah saya pernah mendengar kalimat itu sebelumnya? Hemmm. Ternyata, dari semenjak saya usia 9 tahun, saya sudah pernah mendengar kalimat itu. Kemudian, saya menghayati perlahan-lahan memori saya. Kapan saja saya mendengar, dan siapa yang mengatakannya? Bahkan sampai ke memori waktu saya menuliskan note ini.
Pola pembenaran supaya wajar
Ternyata ada yang menarik, Mau tau?
Setelah saya menganalisa dan membandingkan, saya menemukan sebuah pola. Pola apakah itu? Yaitu pola pembenaran terhadap kondisi diri yang sekarang. Pola itu hadir, karena manipulasi emosi. Berusaha untuk menutupi, tidak mengakui, dan perasaan malu. Sehingga,  terbungkuslah dengan kalimat yang mengandung unsur hipnotik amat dalam. Dan menganggapnya sebagai kewajaran, bahkan lebih wajar.
Kok bisa seperti itu? Karena, kalau kita analisa dari cara menggunakan susunan kata-kata ”Lebih baik miskin harta tapi kaya hati, dari pada kaya harta tapi miskin hati”. Sebenarnya hanya untuk pembenaran supaya wajar. Sebagaimana kita sadari bersama. Siapapun pasti menginginkan sesuatu hal yang lebih baik bagi kehidupannya. Dan, pola lainnya, statemen ”lebih baik...” itu, rata-rata bersumber dari orang-orang yang sama-sama secara financial, belum termasuk katagori orang kaya (memiliki uang lebih dari kebutuhan, bahkan sudah mampu memenuhi keinginannya).
Hukum tarik menarik
Oh ya, dalam buku I can make you rich. Paul Mckenna menjelaskan alasan, mengapa orang kaya, makin bertambah kaya? Karena, mereka memiliki kedamaian hati, kenyamanan perasaan yang sangat kuat terhadap uang. Sehingga, uangpun semakin berdatangan terus kepada mereka. Hal ini sesuai prinsip semesta, hukum tarik menarik. Like attract like. Mungkin, ini penjelasan, mengapa orang-orang kaya yang pernah saya temui, rata-rata memiliki kekayaan hati.
Jadi, apa yang akan Anda pilih, lebih baik kaya hati atau kaya harta (uang)?
Note: Analisa ini hanya berdasarkan pengalaman empiris yang saya alami. Bukan bermaksud untuk menggeneralisir semua nya sama. Bila Anda memiliki pengalaman berbeda, mari kita diskusikan bersama.
Ciganjur, 28 Oktober 2011

Ustman bin Affan: Pengusaha Kaya yang Dermawan

mmmhuhttp://ukhuwah-obsesi.blogspot.com/2012/05/ustman-bin-affan-pengusaha-kaya-yang_21.html
Ukhuwah Obsesi - Banyak  sekali  pengusaha  yang  mengaku sebagai  pengusaha  Muslim.  Tetapi  ketika gagal dalam bisnisnya, mereka menjustifikasi kegagalan itu dengan alasan bahwa dunia ini hanya hiasan semata, dunia hanya sementara, uang tidak dibawa mati, dan alasan lainnya. Masjid pun menjadi sekadar tempat “persembunyian” ketika mereka gagal memenuhi value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah). Bahkan secara masif telah terjadi pemahaman yang keliru tentang uang dan harta.

Pemahaman seperti ini terjadi karena kebanyakan doktrin yang  kita terima sejak kecil bersifat negatif. Contoh doktrin negatif tersebut adalah uang itu kotor, orang kaya itu sombong, uang merusak persahabatan dan persaudaraan, serta  kata-kata  yang  paling  favorit:  uang  adalah  akar masalah. Dengan kondisi pemahaman seperti ini, wajar saja  banyak  di  antara  saudara  kita—kaum  Muslimin—mengesampingkan value  of  prosperity ini, dan hanya nyaman  ketika  mereka  bersentuhan  dengan  nilai kemanusiaan (Al Qimah Al  Insaniyyah), nilai etik (Al Qimah Al Akhlaqiyyah), dan terutama nilai spiritual (Al Qimah Al Ruhiyyah).

Padahal jika kita menganalisa hukum syara’—yang memerintah kita melakukan perbuatan tertentu—kita akan menemukan  bahwa  harus ada keseimbangan  dalam mengusahakan  keempat  nilai-nilai  di  atas.  Islam  tidak mengajarkan kita fokus hanya pada nilai ruhiyyah dan melupakan nilai-nilai yang lain, demikian juga sebaliknya. Masalahnya bukan kita tidak boleh fokus ke nilai ruhiyyah, tetapi kita juga harus ingat ada nilai-nilai lain yang juga harus kita usahakan dalam hidup, termasuk value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah).
Value  of  prosperity  adalah  sesuatu  yang  kita usahakan berhubungan dengan materi. Misalnya, uang, tabungan, rumah, kendaraan, dan hal yang berbentuk benda atau materi.  Allah  telah  memerintahkan  kita  untuk memenuhi  value  of  prosperity.  Sebagai  contoh,  ketika Allah  memerintahkan  jual  beli,  bekerja,  ataupun membentuk syirkah (kerja sama usaha, seperti syirkah mudharabah, syirkah abdan, dll) sebenarnya bertujuan merealisasikan value of prosperityAl Qimah Al Madiyyah ini erat kaitannya dengan ketiga nilai yang lain. Misalnya dengan uang, kita bisa pergi haji, membayar zakat, bersedekah, membantu orang yang dalam kesusahan, memberikan pendidikan yang baik kepada anak kita, dan banyak amalshalih lain yang bisa dilakukan dengan uang.

Jika uang beredar di tangan orang orang yang shalih maka  tidak  mungkin  mereka  membuat  bisnis  yang melanggar syara’ seperti judi online, bisnis esek-esek, dugem, dan aktivitas bisnis lainnya yang dimurkai oleh Allah. Uang dimanfatkan di jalan Allah. Mari kita flash back ke 1.400 tahun yang lalu, ketika dakwah Rasul didukung oleh para pengusaha seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf, banyak yang sudah mereka lakukan dengan harta mereka untuk tegaknya Islam di muka bumi ini. Para sahabat Rasul yang juga pengusaha ini telah menorehkan  tinta  emas  dalam  sejarah  kegemilangan Islam

Kali ini, kami akan membahas sosok sahabat Ustman bin Affan. Sahabat Ustman bin Affan adalah salah satu sosok nyata yang menyeimbangkan antara value of prosperity dan kesederhanaan. Ustman Bin Affan adalah pengusaha besar di zaman Rasulullah. Meskipun kaya raya, beliau hidup dengan sederhana dan sangat dermawan sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Zuhud.
Suatu ketika pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang meramalkan datangnya bencana, maka apa yang harus kita lakukan ?”
Abu Bakar ra menjawab: “Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian.
Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1.000 unta mengangkut gandum, minyak, dan kismis. Unta itu lalu berhenti di depan rumah Ustman, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian pedagang datang menemui Ustman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu.
Lalu Ustman berkata kepada mereka: “Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan ?”
Mereka menjawab: “Dua kali lipat.”
Ustman menjawab: “Wah sayang, sudah ada penawaran lebih.”
Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Ustman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak. Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Ustman: “Wahai Ustman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih ?”
Ustman menjawab: ”Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?”
Mereka serentak menjawab: “Tidak!”
Ustman berkata lagi: “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah karena Allah untuk fakir miskin daripada kaum muslimin.”
Petang hari itu juga Ustman r.a membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.
Itulah salah satu kedermawanan Ustman Bin Affan, merupakan keistimewaan yang dimilikinya selain sebagai Khulafaur Rasyidin, dan beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ustman bin Affan merupakan khalifah ketiga setelah wafatnya Umar bin Khattab. Bangsawan dan konglomerat Makkah yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW karena perjuangan dan ketaqwaannya. Seorang pribadi shalih yang jujur, lembut, dan pemalu. Jasa beliau untuk  menstandarkan teks Al Quran memberi sumbangsih besar dalam penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Data kekayaan beliau:

§  Assetnya bernilai 151.000 dinar plus 1000 dirham
§  Mewariskan property sepanjang ‘Aris dan Khaibar
§  Memiliki beberapa sumur oasis senilai 200.000 dinar atau 240 Miliar IDR

Namun di akhir masa kekhalifahan dan hidupnya, harta yang dimiliki Utsman r.a hanya tersisa dua ekor unta saja. Semuanya dinafkahkan untuk kesejahteraan umat. Bahkan beliau pun tidak mau menerima tunjangan (gaji) dari baitul maal. Subhanallah, inilah karakter khas generasi didikkan langsung Rasulullah SAW.
(CAA)

Muslim Kaya Tidak Tercela

Hidup kaya tidak tercela
Masya Allah, “Sudah kaya, taat beragama, rajin beribadah, berinfak pun tidak pernah putus.” Demikianlah kira-kira pujian terhadap orang yang memiliki banyak harta, berakhlak baik, dan taat menjalankan perintah agama.
Bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi harta kekayaan yang dimilikinya? Haruskah dia kaya atau biasa-biasa saja? Ataukah menerima apa adanya?
Harta kekayaan merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang harus disyukuri. Kaya di dunia bukan satu hal yang tercela. Namun, yang menimbulkan cela adalah perilaku orang yang berduit yang rakus dan tamak terhadap harta. Dalam rangka menumpuk harta, mereka tak segan-segan menggunakan cara yang tidak halal. Setelah berhasil meraihnya, mereka tidak menunaikan haknya, bakhil, membelanjakan harta bukan pada tempatnya, atau bahkan sombong karenanya, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ”Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat berkeluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." (Q.S. Al-Ma’arij:19--21)
Agar sukses dan bahagia di dunia dan akhirat, Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan para hamba-Nya agar berdoa, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), "Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka." (Q.S. Al-Baqarah:201)
Imam Khazin rahimahullah menegaskan dalam tafsirnya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membagi umat manusia yang berdoa menjadi dua. Pertama, kelompok yang hanya berdoa untuk kepentingan dunia. Mereka ini adalah orang-orang kafir, karena mereka tidak menyakini hari kebangkitan dan akhirat. Sementara, kelompok lain (kedua), yaitu orang-orang mukmin yang menggabungkan dalam doa mereka antara kepentingan dunia dan akhirat. Dengan alasan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah yang selalu kekurangan, tidak sanggup hidup sengsara dan terlunta-lunta. [1]
Para pendahulu kita, as-salafush shalih dari kalangan shahabat maupun tabi’in telah memberi teladan cara meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhu, misalnya, memiliki empat istri. Meski sepertiga hartanya telah diwasiatkan, tetapi masing-masing istrinya masih mendapatkan bagian sebesar satu juta dua ratus dinar. Jumlah harta kekayaan beliau radhiallahu ‘anhu seluruhnya adalah lima puluh juta dua ratus ribu (dinar). [2]
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkomentar, ”Ini menjadi bantahan terhadap orang-orang zuhud yang tidak berilmu yang tidak suka mengumpulkan harta kekayaan.” [3]
Oleh karena itu, Islam tidak membiarkan seorang muslim merasa kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Bahkan, Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar mereka mencapai kesuksesan ketika mengais rezeki, sehingga pintu kemakmuran dan keberkahan akan terbuka.
Istiqamah dengan harta
Kekayaan kadang membuat manusia lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberi mereka harta. Ini menyebabkan kufur nikmat.
Jika kekayaan membuat seseorang tetap istiqamah dan taat beragama, harta itu akan mendatangkan manfaat yang sangat banyak.
Misalnya, dengan hidup berkecukupan maka menutut ilmu menjadi mudah, beribadah menjadi lancar, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul semakin indah, berdakwah semakin sukses, berumah tangga semakin stabil, dan beramal saleh semakin tangguh. Oleh karena itu, harta di tangan seorang mukmin tidak akan berubah menjadi monster perusak kehidupan dan tatanan sosial serta penghancur kebahagiaan keluarga dan pilar-pilar rumah tangga. Sebaliknya, harta di tangan seorang muslim bisa berfungsi sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah dan perekat hubungan dengan makhluk.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Harta terbaik adalah yang dimiliki laki-laki yang saleh." [4]
Bahkan, harta tersebut akan menjadi sebuah energi yang memancarkan masa depan cerah dan sebuah kekuatan yang mengandng berbagai macam keutamaan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Harta juga bisa menjadi penggerak roda dakwah dan jihad di jalan Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. 'Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dri kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.'" (Q.S. Al-Insan:8--9)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi pujian kepada seorang muslim yang dermawan dan membelanjakan hartanya dalam kebaikan. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah dinar seseorang yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya." [5]
Dengan harta yang halal dan bersih, para generasi salaf berlomba dan berpacu untuk mengejar pahala dan meraih surga. Seperti yang terjadi pada kehidupan Umar radhiallahu ‘anhu yang bersaing secara "sehat" dalam berinfak, di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.
Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu bercerita, "Suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami agar bersedekah, dan ketika itu, saya sedang memiliki banyak harta. Saya mengatakan, ’Hari ini, saya akan mampu mengungguli Abu Bakar.’ Kemudian, saya pun datang dengan membawa separuh hartaku untuk disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya menjawab, ’Saya tinggalkan sejumlah itu untuk keluargaku.’ Lalu, Abu Bakar datang membawa semua kekayaannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Ia menjawab, ’Saya tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.’ Lalu, aku berkata, ’Saya tidak akan bisa mengunggulimu selamanya.’" [6]
Kenapa rela hidup terhina?
Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup pada orang lain, karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan. Alquran juga memuji orang yang bersabar dan menahan diri dengan tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya; mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah:273)
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, ”Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja melainkan ia berada dalam dua keburukan. Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan. Kedua, demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa kecuali orang yang hina dan gelandangan, sebab orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Bisa jadi, orang tidak memiliki harta masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha.” [7]
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri dengan tidak meminta-minta, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, "Barang siapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apa pun kepada seseorang maka aku akan menjaminnya dengan surga." [8]
Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, bersemangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain. Penyebabnya, pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam, seperti yang telah ditegaskan dalam sebuah hadis dari Abdullah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun." [9]
Bersambung, insya Allah ....
Catatan kaki:
[1] Lihat tafsir Lubabut Ta’wil, Imam Al-Khazin, 1:124.
[2] H.R. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 3129 dan Abu Nu’aim dalam Hilyah, hlm. 286.
[3] Fathul Bari, Ibnu Hajar, 6:262.
[4] H.R. Ahmad dalam Musnad dengan sanad hasan, juz 4, hadis no. 197 dan 202.
[5] H.R. Muslim, 2:574 (994).
[6] H.R. Tirmidzi, no. 3675; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1:414. Beliau rahimahullah mengatakan, "Sahih."
[7] Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 303.
[8] H.R. Abu Daud. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa sanadnya sahih.
[9] H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya.
Sumber: Majalah As-Sunnah, edisi 12, thn. XIV, Jumadil Ula 1432 H/April 2011 M.
Artikel www.ibnuabbaskendari.wordpress.com
Dipublikasikan ulang oleh www.PengusahaMuslim.com, disertai penyuntingan bahasa.

Senin, 05 November 2012

Ini Dia 10 Orang Kaya Paling Dermawan

Sangat mudah mengkritik orang kaya yang bergaya hidup mewah, terutama dalam kondisi perekonomian yang tengah sulit. Namun, rupanya masih banyak orang kaya yang dermawan, yang mau mendukung kegiatan pendidikan hingga penyembuhan penyakit. Mereka memberikan donasinya hingga ke seluruh pelosok dunia dengan membentuk atau menjadi penyandang dana terbesar yayasan sosial.

ayo lihat  situs berikut biar tau lengkapnya..klik disini

Ayo Jadi Muslim Kaya

Kata “kaya” di sini adalah kaya dalam arti denotatif (arti sesungguhnya) bukan ‘kaya’ dalam arti konotatif (kiasan), saya tidak sedang mengajak anda untuk kaya pikiran, kaya hati, kaya iman, kaya kebahagiaan, dsb, saya rasa sudah banyak yang mengajak anda ke arah sana. Kaya yang bersifat immaterial memang penting tapi kaya material juga merupakan sesuatu yang tidak kalah pentingnya dibandingkan kaya immaterial . Bahkan orang kaya immaterial yang didukung dengan material mendapatkan tempat yang lebih mulia dibandingkan sekedar kaya immaterial saja. 

Abdullah bin Mas’ud berkata, bersabda Rasulullah Saw : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam dua macam; seorang yang diberi oleh Alloh ta’ala harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak (kebenaran), dan seorang yang diberikan oleh Alloh ta’ala ilmu dan ia pergunakan dan diajarkannya” (HR Bukhari-Muslim). 

Ibn Umar ra berkata, bersabda Rasulullah Saw: “Tidak boleh seorang iri hati terhadapa orang lain, kecuali dalam dua hal; seorang yang diberikan pengertian Quran, maka ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang malam dan seseorang yang diberikan oleh Alloh kekayaan harta dan ia membelanjakan siang dan malam untuk segala amal kebaikkan” (HR Bukhari-Muslim). 

Di zaman Rasulullah orang kaya yang beramal saleh pernah membuat iri para sahabat yang tidak kaya, Abu Hurairah ra  berkata, bahwasannya para fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, orang – orang kaya telah memborong semua pahala dan tingkat – tingkat yang tinggi serta kesenangan abadi”
Rasulullah bertanya “ Mengapa demikian ?”
Mereka Menjawab “Mereka sholat sebagaimana kami sholat, dan puasa sebagaimana kami, dan mereka bersedekah sedangkan kami tidak dapat bersedekah, dan mereka memerdekakan budak, sedangkan kami tidak dapat memerdekakan budak”
Hadist ini menunjukkan para sahabat yang tidak kaya sadar bahwaorang kaya yang beramal sholeh mempunyai peluang lebih banyak dalam beribadah, untuk menghibur para sahabat yang kurang beruntung secara ekonomi Rasulullah bersabda “Sukakah saya ajarkan kepada kamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka, dan tiada seorang yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu”.
Mereka menjawab “ Baikkah ya Rasul”
Bersabda Nabi : “Membaca tasbih dan takbir dan tahmidtiap selesai sholat 33 kali”
apakah kisah ini selesai dan para sahabat yang miskin menjadi sama mulianya dengan orang beriman yang kaya ? ternyata tidak, sesudah itu para sahabat tersebut kembali mengeluh kepada Nabi “Ya Rasulullah , saudara – saudara kami yang kaya, mendengar perbuatan kami, maka mereka berbuat sebagaimana kami perbuat”.
Nabi Menjawab “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-NYA”

Dalam hadist ini kita dapat mengambil hikma bahwa kekayaan adalah karunia sepanjang digunakan untuk kebaikkan, dan orang muslim kaya mempunyai kemampuan lebih besar daripada muslim yang miskin, dan itu disadari oleh para sahabat sejak dari dahulu.

Umar bin Khatab ra pernah cemburu pada Abu Bakar ra dalam hal beramal. Harta yang dipersembahkannya untuk perjuangan islam kepada Nabi, Umar merasa harta yan diberikan untuk perjuangan tidak berarti bila dibandingkan dengan seluruh harta yang di infakkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq ra, karena Umar menyerahkan 1/2 dari hartanya, Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar ra “Adakah yang kau sisakan untuk keluargamu ? “
Abu Bakar menjawab “Aku menyisakan untuk mereka Alloh dan Rasul-NYA”
Lalu Umar berkata “Aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar dalam segala hal” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari Umar bin Khatab)

Alloh berfirman “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari api neraka, yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya” Surat Al – Lail ayat 17 – 18. Para ulama sepakat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar ra.

Abu Bakar dermawan karena ia memiliki banyak harta, demikian pula dengan Umar yang terkenal zuhud ternyata juga. Dengan harta itu mereka mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk meraih ridho Alloh dan Rasul-NYA, dengan kisah tersebut hendaknya memotivasi kita untuk bekerja keras dan meraih harta, dengan kerja keras saja pahala telah kita dapatkan apalagi dengan harta yang banyak dimana kita dapat berinfak dan sedekah di jalan Alloh maka akan mendapatkan berlipat – lipat balasannya.  Dalam kisah ini kita bisa melihat bahwa kaya bagi seorang muslim sangat di anjurkan, sementara gaya hidup adalah pilihan. 

Para sahabat menunjukkan kombinasi yang indah; pandai berdagang, keras berusaha, tidak meninggalkan ibadah dan berdoa kemudian kaya namun hidup tidak diperbudak harta. itulah zuhud yang sesungguhnya.
Imam Al Ghazali mengatakan orang zuhud adalah orang yang punya dunia lalu meninggalkannya dengan sadar, sedangkan orang miskin itu adalah orang yang ditinggalkan dunia. Kalau ada orang miskin tidak sanggup membeli makan lalu puasa senin dan kamis itu bukan disebut zuhud, melainkan memaksimalkan kondisi keterbatasannya agar tetap dapat pahala. Daripada tidak makan dan tidak dapat pahala lebih bagus tidak makan dapat pahala, upaya ini benar dan tetap berpahala tetapi tidak masuk area zuhud. 

Jika kita membaca sirah Nabi, Rasulullah itu sudah kaya raya sebelum jadi Nabi. Kemiskinan Rasulullah yang kita baca dalam hadist-hadist adalah kemiskinan atas pilihan. bahkan Rasul pernah mengatakan bahwa semua nabi itu sebagain besar kkaya, tidak ada lagi nabi yang diutus setelah nabi Syu’aib melainkan dia berasalah dari keluarga kaya dari kaumnya. 

Rasulullah telah magang dalam bisnis untuk mencari penghasilan pada usia 8 tahun, diusia 12 tahun beliau sudah pulang pergi keluar negeri ikut dalam bisnis keluarga, pada umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam perang sehingga punya pengalaman militer. Umur 20 tahun Muhammad muda sudah menjadi pengusaha, dan Khadijah sebagai investornya. Mungkin ini yang banyak orang yang belum mengetahuinya pada usia 25 tahun Nabi menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta, 1 unta kira – kira harganya sekitar Rp. 10juta, sehingga total mahalnya adalah Rp.200juta, itu baru maharnya belum harta simpanannya yang lain.
Rasullah pernah berkata “Sebaik – baiknya harta itu adalah uang yang beredar diantara orang – orang shaleh”

Apabila uang itu beredar lebih banyak di tangan orang – orang jahat maka indikasi bahwa masyarakat itu rusak, dan apabila uang beredar di tangan orang – orang shaleh maka indikasi masyarakat tersebut adalah sehat. Salah problem terbesar negeri ini adalah orang – orang shalehnya sebagaian besar tak terlalu baik penguasaan hartanya, sehingga harta yang seharusnya optimal untuk kebaikkan dan kesejahteraan masyarakat dipegang orang – orang tak amanah dan bukan orientasi dakwah bahkan di pegang oleh non muslim yang tidak mengerti mengenai amanat Alloh berupa harta.

Menyantuni anak yatim yang sangat mulia memerlukan kekuatan harta, menyumbang atau mendirikan pondok pesantren atau tempat penghafal Quran juga memerlukan harta. Membiayai para pendakwah keliling ke berbagai lokasi perlu harta, mendirikan perpustakaan di lokasi yang rendah pendidikkannya juga memerlukan harta. Menyumbang korban bencana alam butuh harta. Memperbaiki penampilan kita pun butuh biaya, karena mencitrakan keindahan dan kewibawaan Islam butuh biaya.

Sumber:http://arieonolancel.wordpress.com/2011/01/21/ayo-jadi-muslim-kaya/