la bellezza della condivisione

Ketika Semua Terasa Indah Saat Kita Berbagi

Kimia Selalu Penuh warna

Semua akan memancarkan indahnya warna mereka dan ketika digabungkan akan menjadi pelangi yang menakjubkan

Menjadi sebaik-baik manusia

Improvment selalu diawali dengan huruf "I" yang berarti saya

Air

Semua kehidupan berawal dari Air

Hemat

Hemat Air berarti menyelamatkan Bumi kita

Tampilkan postingan dengan label kaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

Ustman bin Affan: Pengusaha Kaya yang Dermawan

mmmhuhttp://ukhuwah-obsesi.blogspot.com/2012/05/ustman-bin-affan-pengusaha-kaya-yang_21.html
Ukhuwah Obsesi - Banyak  sekali  pengusaha  yang  mengaku sebagai  pengusaha  Muslim.  Tetapi  ketika gagal dalam bisnisnya, mereka menjustifikasi kegagalan itu dengan alasan bahwa dunia ini hanya hiasan semata, dunia hanya sementara, uang tidak dibawa mati, dan alasan lainnya. Masjid pun menjadi sekadar tempat “persembunyian” ketika mereka gagal memenuhi value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah). Bahkan secara masif telah terjadi pemahaman yang keliru tentang uang dan harta.

Pemahaman seperti ini terjadi karena kebanyakan doktrin yang  kita terima sejak kecil bersifat negatif. Contoh doktrin negatif tersebut adalah uang itu kotor, orang kaya itu sombong, uang merusak persahabatan dan persaudaraan, serta  kata-kata  yang  paling  favorit:  uang  adalah  akar masalah. Dengan kondisi pemahaman seperti ini, wajar saja  banyak  di  antara  saudara  kita—kaum  Muslimin—mengesampingkan value  of  prosperity ini, dan hanya nyaman  ketika  mereka  bersentuhan  dengan  nilai kemanusiaan (Al Qimah Al  Insaniyyah), nilai etik (Al Qimah Al Akhlaqiyyah), dan terutama nilai spiritual (Al Qimah Al Ruhiyyah).

Padahal jika kita menganalisa hukum syara’—yang memerintah kita melakukan perbuatan tertentu—kita akan menemukan  bahwa  harus ada keseimbangan  dalam mengusahakan  keempat  nilai-nilai  di  atas.  Islam  tidak mengajarkan kita fokus hanya pada nilai ruhiyyah dan melupakan nilai-nilai yang lain, demikian juga sebaliknya. Masalahnya bukan kita tidak boleh fokus ke nilai ruhiyyah, tetapi kita juga harus ingat ada nilai-nilai lain yang juga harus kita usahakan dalam hidup, termasuk value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah).
Value  of  prosperity  adalah  sesuatu  yang  kita usahakan berhubungan dengan materi. Misalnya, uang, tabungan, rumah, kendaraan, dan hal yang berbentuk benda atau materi.  Allah  telah  memerintahkan  kita  untuk memenuhi  value  of  prosperity.  Sebagai  contoh,  ketika Allah  memerintahkan  jual  beli,  bekerja,  ataupun membentuk syirkah (kerja sama usaha, seperti syirkah mudharabah, syirkah abdan, dll) sebenarnya bertujuan merealisasikan value of prosperityAl Qimah Al Madiyyah ini erat kaitannya dengan ketiga nilai yang lain. Misalnya dengan uang, kita bisa pergi haji, membayar zakat, bersedekah, membantu orang yang dalam kesusahan, memberikan pendidikan yang baik kepada anak kita, dan banyak amalshalih lain yang bisa dilakukan dengan uang.

Jika uang beredar di tangan orang orang yang shalih maka  tidak  mungkin  mereka  membuat  bisnis  yang melanggar syara’ seperti judi online, bisnis esek-esek, dugem, dan aktivitas bisnis lainnya yang dimurkai oleh Allah. Uang dimanfatkan di jalan Allah. Mari kita flash back ke 1.400 tahun yang lalu, ketika dakwah Rasul didukung oleh para pengusaha seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf, banyak yang sudah mereka lakukan dengan harta mereka untuk tegaknya Islam di muka bumi ini. Para sahabat Rasul yang juga pengusaha ini telah menorehkan  tinta  emas  dalam  sejarah  kegemilangan Islam

Kali ini, kami akan membahas sosok sahabat Ustman bin Affan. Sahabat Ustman bin Affan adalah salah satu sosok nyata yang menyeimbangkan antara value of prosperity dan kesederhanaan. Ustman Bin Affan adalah pengusaha besar di zaman Rasulullah. Meskipun kaya raya, beliau hidup dengan sederhana dan sangat dermawan sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Zuhud.
Suatu ketika pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang meramalkan datangnya bencana, maka apa yang harus kita lakukan ?”
Abu Bakar ra menjawab: “Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian.
Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1.000 unta mengangkut gandum, minyak, dan kismis. Unta itu lalu berhenti di depan rumah Ustman, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian pedagang datang menemui Ustman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu.
Lalu Ustman berkata kepada mereka: “Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan ?”
Mereka menjawab: “Dua kali lipat.”
Ustman menjawab: “Wah sayang, sudah ada penawaran lebih.”
Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Ustman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak. Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Ustman: “Wahai Ustman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih ?”
Ustman menjawab: ”Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?”
Mereka serentak menjawab: “Tidak!”
Ustman berkata lagi: “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah karena Allah untuk fakir miskin daripada kaum muslimin.”
Petang hari itu juga Ustman r.a membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.
Itulah salah satu kedermawanan Ustman Bin Affan, merupakan keistimewaan yang dimilikinya selain sebagai Khulafaur Rasyidin, dan beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ustman bin Affan merupakan khalifah ketiga setelah wafatnya Umar bin Khattab. Bangsawan dan konglomerat Makkah yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW karena perjuangan dan ketaqwaannya. Seorang pribadi shalih yang jujur, lembut, dan pemalu. Jasa beliau untuk  menstandarkan teks Al Quran memberi sumbangsih besar dalam penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Data kekayaan beliau:

§  Assetnya bernilai 151.000 dinar plus 1000 dirham
§  Mewariskan property sepanjang ‘Aris dan Khaibar
§  Memiliki beberapa sumur oasis senilai 200.000 dinar atau 240 Miliar IDR

Namun di akhir masa kekhalifahan dan hidupnya, harta yang dimiliki Utsman r.a hanya tersisa dua ekor unta saja. Semuanya dinafkahkan untuk kesejahteraan umat. Bahkan beliau pun tidak mau menerima tunjangan (gaji) dari baitul maal. Subhanallah, inilah karakter khas generasi didikkan langsung Rasulullah SAW.
(CAA)

Muslim Kaya Tidak Tercela

Hidup kaya tidak tercela
Masya Allah, “Sudah kaya, taat beragama, rajin beribadah, berinfak pun tidak pernah putus.” Demikianlah kira-kira pujian terhadap orang yang memiliki banyak harta, berakhlak baik, dan taat menjalankan perintah agama.
Bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi harta kekayaan yang dimilikinya? Haruskah dia kaya atau biasa-biasa saja? Ataukah menerima apa adanya?
Harta kekayaan merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang harus disyukuri. Kaya di dunia bukan satu hal yang tercela. Namun, yang menimbulkan cela adalah perilaku orang yang berduit yang rakus dan tamak terhadap harta. Dalam rangka menumpuk harta, mereka tak segan-segan menggunakan cara yang tidak halal. Setelah berhasil meraihnya, mereka tidak menunaikan haknya, bakhil, membelanjakan harta bukan pada tempatnya, atau bahkan sombong karenanya, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ”Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat berkeluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." (Q.S. Al-Ma’arij:19--21)
Agar sukses dan bahagia di dunia dan akhirat, Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan para hamba-Nya agar berdoa, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), "Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka." (Q.S. Al-Baqarah:201)
Imam Khazin rahimahullah menegaskan dalam tafsirnya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membagi umat manusia yang berdoa menjadi dua. Pertama, kelompok yang hanya berdoa untuk kepentingan dunia. Mereka ini adalah orang-orang kafir, karena mereka tidak menyakini hari kebangkitan dan akhirat. Sementara, kelompok lain (kedua), yaitu orang-orang mukmin yang menggabungkan dalam doa mereka antara kepentingan dunia dan akhirat. Dengan alasan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah yang selalu kekurangan, tidak sanggup hidup sengsara dan terlunta-lunta. [1]
Para pendahulu kita, as-salafush shalih dari kalangan shahabat maupun tabi’in telah memberi teladan cara meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhu, misalnya, memiliki empat istri. Meski sepertiga hartanya telah diwasiatkan, tetapi masing-masing istrinya masih mendapatkan bagian sebesar satu juta dua ratus dinar. Jumlah harta kekayaan beliau radhiallahu ‘anhu seluruhnya adalah lima puluh juta dua ratus ribu (dinar). [2]
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkomentar, ”Ini menjadi bantahan terhadap orang-orang zuhud yang tidak berilmu yang tidak suka mengumpulkan harta kekayaan.” [3]
Oleh karena itu, Islam tidak membiarkan seorang muslim merasa kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Bahkan, Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar mereka mencapai kesuksesan ketika mengais rezeki, sehingga pintu kemakmuran dan keberkahan akan terbuka.
Istiqamah dengan harta
Kekayaan kadang membuat manusia lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberi mereka harta. Ini menyebabkan kufur nikmat.
Jika kekayaan membuat seseorang tetap istiqamah dan taat beragama, harta itu akan mendatangkan manfaat yang sangat banyak.
Misalnya, dengan hidup berkecukupan maka menutut ilmu menjadi mudah, beribadah menjadi lancar, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul semakin indah, berdakwah semakin sukses, berumah tangga semakin stabil, dan beramal saleh semakin tangguh. Oleh karena itu, harta di tangan seorang mukmin tidak akan berubah menjadi monster perusak kehidupan dan tatanan sosial serta penghancur kebahagiaan keluarga dan pilar-pilar rumah tangga. Sebaliknya, harta di tangan seorang muslim bisa berfungsi sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah dan perekat hubungan dengan makhluk.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Harta terbaik adalah yang dimiliki laki-laki yang saleh." [4]
Bahkan, harta tersebut akan menjadi sebuah energi yang memancarkan masa depan cerah dan sebuah kekuatan yang mengandng berbagai macam keutamaan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Harta juga bisa menjadi penggerak roda dakwah dan jihad di jalan Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. 'Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dri kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.'" (Q.S. Al-Insan:8--9)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi pujian kepada seorang muslim yang dermawan dan membelanjakan hartanya dalam kebaikan. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah dinar seseorang yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya." [5]
Dengan harta yang halal dan bersih, para generasi salaf berlomba dan berpacu untuk mengejar pahala dan meraih surga. Seperti yang terjadi pada kehidupan Umar radhiallahu ‘anhu yang bersaing secara "sehat" dalam berinfak, di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.
Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu bercerita, "Suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami agar bersedekah, dan ketika itu, saya sedang memiliki banyak harta. Saya mengatakan, ’Hari ini, saya akan mampu mengungguli Abu Bakar.’ Kemudian, saya pun datang dengan membawa separuh hartaku untuk disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya menjawab, ’Saya tinggalkan sejumlah itu untuk keluargaku.’ Lalu, Abu Bakar datang membawa semua kekayaannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Ia menjawab, ’Saya tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.’ Lalu, aku berkata, ’Saya tidak akan bisa mengunggulimu selamanya.’" [6]
Kenapa rela hidup terhina?
Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup pada orang lain, karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan. Alquran juga memuji orang yang bersabar dan menahan diri dengan tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya; mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah:273)
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, ”Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja melainkan ia berada dalam dua keburukan. Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan. Kedua, demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa kecuali orang yang hina dan gelandangan, sebab orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Bisa jadi, orang tidak memiliki harta masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha.” [7]
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri dengan tidak meminta-minta, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, "Barang siapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apa pun kepada seseorang maka aku akan menjaminnya dengan surga." [8]
Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, bersemangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain. Penyebabnya, pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam, seperti yang telah ditegaskan dalam sebuah hadis dari Abdullah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun." [9]
Bersambung, insya Allah ....
Catatan kaki:
[1] Lihat tafsir Lubabut Ta’wil, Imam Al-Khazin, 1:124.
[2] H.R. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 3129 dan Abu Nu’aim dalam Hilyah, hlm. 286.
[3] Fathul Bari, Ibnu Hajar, 6:262.
[4] H.R. Ahmad dalam Musnad dengan sanad hasan, juz 4, hadis no. 197 dan 202.
[5] H.R. Muslim, 2:574 (994).
[6] H.R. Tirmidzi, no. 3675; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1:414. Beliau rahimahullah mengatakan, "Sahih."
[7] Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 303.
[8] H.R. Abu Daud. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa sanadnya sahih.
[9] H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya.
Sumber: Majalah As-Sunnah, edisi 12, thn. XIV, Jumadil Ula 1432 H/April 2011 M.
Artikel www.ibnuabbaskendari.wordpress.com
Dipublikasikan ulang oleh www.PengusahaMuslim.com, disertai penyuntingan bahasa.